
Perindustrian film Indonesia kembali meluncurkan film bergenre drama rumah tangga yang dibintangi oleh artis senior Marshanda, siapa yang tak kenal dengan artis kelahiran 10 Agustus 1989 ini, kali ini ia disandingkan dengan Deva Mahendra yang juga sudah pernah memainkan film bergenre sama. La Tahzan: Cinta, Doa, Luka, film garapan sutradara Hanung Bramantyo, berhasil mencuri perhatian masyarakat Indonesia terutama perempuan, film yang berdurasi 139 menit menyuguhkan begitu banyak emosi dengan adegan yang sangat dramatis scene demi scene.
Film La Tahzan menceritakan kisah rumah tangga yang awalnya harmonis namun berubah menjadi histeris setelah Asih (Ariel Tatum) masuk dalam kehidupan keluarga mereka. Alina (Marshanda) mempunyai 2 orang anak, selain sebagai ibu rumah tangga ia juga memiliki bisnis yang dikelola dia bersama teman nya dan Reza (Deva Mahendra) adalah seorang agen properti. Awal kisah dimulai saat Alina mencari Baby Sister untuk anak keduanya, tapi ia tidak sadar bahwa itu adalah awal kehancuan rumah tangganya.
Baca Juga: Fenomena Larisnya Film Perselingkuhan di Indonesia
Setelah diterima kerja di rumah Alina, mbak Kar (Asri Welas) yang juga menjadi asisten rumah tangga senior, memiliki perasaan yang kurang enak kepada Asih yang disampaikan langsung ke Alina namun tidak digubris. Awalnya semua berjalan baik-baik saja sebelum Asih merubah segalanya, mulai dari menarik perhatian anak-anak Alina, sampai main belakang dengan Reza majikannya sendiri.
Oke sekarang mari kita kupas satu persatu, mulai dari durasi film, sudut pandang perempuan, latar belakang, kesan mistik dan juga dampak pada penonton.

- Memiliki durasi panjang yakni 139 menit yang tidak membuat orang jenuh di dalam bioskop karena disuguhi dengan adegan yang epik dan alur yang tersusun dengan rapi, tapi yang menjadi kekurangan film ini adalah tidak adanya time line yang tertulis di layar, yang membuat para penonton menebak-nebak berapa lama waktu Reza mulai terkena dampak guna-guna Asih, berapa lama Asih berhasil menguasai Reza, keluarga, dan kekayaannya.
Dan juga ketidakjelasan hubungan Reza Alina setelah kejadian tersebut, sebagian artikel menganggap itu sebuah perpisahan dan kembali rujuk, tapi difilmnya tidak dimunculkan adegan seperti itu, jadi bisa juga membuat penonton bertanya-tanya apakah hanya sekedar pisah rumah atau sudah sampai di pengadilan.
- Sudut pandang perempuan, bagaimana respon perempuan setelah melihat film garapan Hanung Brahmantyo yang selalu terkesan menyalahkan perempuan berkarir, setelah film Ipar adalah Maut yang juga sedikit memiliki persamaan dari karakter yang diciptakan, apakah itu adil bagi perempuan, meskipun ini diangkat dari kisah nyata harusnya sebagai sutradara yang bijak bisa sedikit membumbuhi permasalahan ini dengan adil. Tanpa disadari dari kedua film itu sudut pandang masyarakat luas mengarah pada perempuan yang bekerja setelah menikah, yang dianggap tidak becus dalam mengurus rumah tangga.
Dalam film ini Hanung lebih mengedepankan adegan ranjang dari pelaku, tidak saat bersama dengan istri, mengapa demikian? Andai adegan seperti itu juga disorot mungkin penilaian negatif tentang perempuan yang bekerja akan sedikit berkurang, karna pertama istri bisa fokus bekerja saat di luar, tapi saat di rumah urusan keluarga juga terpenuhi, anak diasuh dengan baik, suami juga dilayani dengan puas.
- Di dalam film ini, latar belakang Asih tidak dijelaskan secara rinci yang membuat penonton bertanya-tanya, apa sebenarnya motif dari Asih. Hanya beberapa scene yang menunjukkan flashback dari Asih, dan biasanya pada film-film besar hal itu yang ditunggu banyak penonton. Latar belakang sebenarnya sangat mempengaruhi sudut pandang orang dalam menilai film, apakah pantas Asih disalahkan 100% dalam kejahatannya ini? Tidak adil sebenarnya jika semuanya ditunjukkan ke Asih, tapi plot twish ada di akhir film yang membuat sebagian membenarkan jika karakter Asih itu antagonis.
- Kesan mistik yang ada di dalam film sangat terlihat mulus di awal, hingga saat sopir keluarga Alina memergoki Asih sedang bersama Reza. Kesan mistik dihadirkan saat flashback film, dan itu yang menjadi plot twis dalam film ini. Asih yang ternyata sering mencampurkan cairan ke dalam jus Reza serta membaca jampi-jampi membuat perlahan Reza dan kedua anaknya masuk dalam jebakan Asih.
Baca Juga: Memetik Pesan dalam Film Ipar adalah Maut
Selain menggunakan ilmu hitam para penonton dikecohkan dengan nyanyian Ambilkan Bulan Bu yang selalu dinyanyikan oleh Asih kepada kedua anak Alina dan Reza, memang belum ada penelitian dari pernyataan ini, namun bisa jadi lagu ini digunakan untuk memengaruhi anak-anak, karena apa? Jika dilihat dari filosofi lagu ini, katanya menggambarkan ketenangan malam, harapan, dan keinginan anak akan sesuatu yang indah saat gelap atau malam hari, tapi kenapa Asih selalu menyanyikan lagu ini kapanpin dan dimanapun. Atau bisa jadi juga lagu ini adalah gambaran Asih yang menginginkan semua hal yang ada dilirik lagu itu, yang membuat ia berambisi untuk menghancurkan rumah tangga orang.
- Dampak pada penonton bisa terlihat dari 2 sisi, yakni positif dan negatif. Dampak positif akan selalu diambil oleh orang yang pandai mengambil hikmah dari setiap kejadian dalam setiap alur di film, seperti perjuangan Alina demi membebaskan anak-anaknya dari cengkraman Asih, keluasan dan kekuatan ibu Alina yang selalu memberi support untuk Alina, dan sahabat/kerabat dekat Alina yang juga selalu membantu, mendukung Alina di saat down.
Tapi dalam film ini jika dibilang ada dampak negatifnya pasti ada, kita kembali ke no 1, tentang timeline yang bisa jadi memang tidak dimunculan karena khawatir akan ditiru dan dititeni oleh penonton seperti berapa lama Asih bisa melumpuhkan Reza dengan cairan dan ilmu hitammnya, berapa lama Reza akan terpengaruh, dan berapa lama Asih kembali berulah dengan orang yang berbeda di akhir cerita, karena mungkin kemunculan timeline itu bagi sutradara bisa dibilang tidak perlu apalagi untuk menghitumg perbuatan yang buruk
Setiap tontonan pasti memiliki dampak terhadap penontonnya, dan tidak mungkin industri perfilman membuat film yang tidak bisa diambil hikmahnya, dari film ini kita bisa melihat bahwa dampak sihir juga bisa mengenai orang yang bisa dikatakan alim (tidak pernah meninggalkan sholat, rajin sedekah), tapi di sini juga membuktikan bahwa kekuatan dan pertolongan Allah adalah hal yang sudah pasti jika kita mau berusaha dengan benar. Gimana menurut kalian, tertarik nonton film La Tahzan?
Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

