
Semakin ke sini, secara pribadi saya merasa seperti kehilangan ritme. Ada perasaan ganjil yang selalu muncul: “Kenapa hari ini rasanya saya tidak produktif?” Padahal, kalau dihitung secara logika, saya tetap melakukan banyak hal. Menulis berita, membaca sumber, menyusun draft, atau sekadar berdiskusi dengan narasumber lewat sambungan telepon. Namun anehnya, rasa tidak puas itu tetap saja menghantui. Saya jadi bertanya pada diri sendiri, apa sebenarnya arti produktif itu? Apakah harus dengan pekerjaan fisik yang terlihat oleh orang lain? Atau ada bentuk lain dari produktivitas yang sering luput kita sadari?
Di masyarakat kita, produktivitas sering kali disamakan dengan sesuatu yang nyata dan terukur. Misalnya bekerja di pabrik, terlihat memproduksi barang; atau bekerja di sawah, terlihat menanam dan memanen. Bahkan di kantor pun, mereka yang sibuk mondar-mandir dengan kertas di tangan, seolah lebih produktif daripada seseorang yang hanya duduk di depan layar komputer berjam-jam. Tolok ukurnya sederhana: siapa yang paling banyak bergerak, paling sering terlihat sibuk, dialah yang dianggap bekerja keras. Sedangkan pekerjaan yang lebih banyak melibatkan pikiran, riset, dan olah kata seperti pekerjaan jurnalis, penulis, atau peneliti yang seringkali dipandang lebih “ringan”.
Padahal, pekerjaan non-fisik ini tidak kalah melelahkan. Jurnalis, misalnya, bisa saja hanya duduk di depan laptop, tapi otaknya berputar tanpa henti. Ia harus menyeleksi informasi yang berserakan, memilah mana fakta, mana opini, mana hoaks, mana yang layak disampaikan. Semua itu membutuhkan energi mental yang luar biasa. Namun karena tidak ada aktivitas fisik yang kasatmata, produktivitasnya sering kali dipandang sebelah mata, bahkan oleh dirinya sendiri.
Baca Juga: Suka Duka Berprofesi Jurnalis
Saya jadi ingat, betapa seringnya kita membandingkan diri dengan orang lain. Saat melihat teman bekerja di lapangan, memegang kamera, berlarian mengejar narasumber, saya merasa kecil: “Ah, saya kok Cuma di rumah menulis ya?” Padahal pekerjaan menulis itu sendiri merupakan tulang punggung jurnalisme. Tanpa menulis, tidak ada berita. Tanpa olah kata, informasi yang mentah tidak akan pernah menjadi pengetahuan yang bisa dipahami publik. Tapi tetap saja, ada perasaan “kurang produktif” karena tidak ada aktivitas fisik yang menyertainya.

Di sinilah saya belajar bahwa definisi produktif sebenarnya sangat relatif. Tidak bisa disamakan antara satu profesi dengan profesi lain. Seorang petani produktif ketika ia menanam, merawat, dan memanen hasil ladang. Seorang guru produktif ketika ia mengajar murid-muridnya, bahkan jika itu hanya dengan menulis di papan tulis. Lalu seorang jurnalis? Produktifnya bisa muncul ketika ia berhasil menemukan narasumber yang tepat, menggali cerita tersembunyi, atau sekadar berhasil menulis satu berita yang akurat dan layak tayang. Walaupun terlihat “diam” di balik layar, jurnalis sebenarnya sedang menggerakkan banyak hal: opini publik, kesadaran masyarakat, bahkan arah kebijakan pemerintah.
Namun tetap saja, saya tidak bisa menolak perasaan manusiawi yang muncul: rasa bersalah saat tidak banyak bergerak. Seolah-olah tubuh dan pikiran saya masih tertanam dalam budaya lama: kerja itu identik dengan keringat. Kalau tidak ada keringat, berarti tidak bekerja. Budaya inilah yang sering membuat kita terjebak dalam ilusi produktivitas. Misalnya, orang yang sibuk rapat seharian dianggap lebih produktif daripada orang yang hanya membaca dan merenung. Padahal, rapat itu mungkin tidak menghasilkan apa-apa, sementara renungan bisa melahirkan ide besar.
Saya teringat satu kutipan lama: “Jurnalisme adalah menulis draft pertama sejarah.” Kalau benar begitu, maka pekerjaan seorang jurnalis, sekecil apapun, sebenarnya adalah kerja peradaban. Bayangkan, jika seorang jurnalis menulis sebuah laporan investigasi, meski ia hanya duduk di depan laptop, dampaknya bisa mengguncang satu negara. Bukankah itu bentuk produktivitas yang paling nyata?
Baca Juga: Langkah Kecil Jurnalis Desa
Saya mulai menyadari bahwa produktif bukan berarti harus selalu fisik. Produktif adalah ketika apa yang kita lakukan memberi dampak, meski kecil, terhadap orang lain atau terhadap diri kita sendiri. Menulis satu artikel pendek bisa jadi lebih produktif daripada menghabiskan sehari penuh melakukan hal-hal yang tampak sibuk tapi tidak menghasilkan apapun. Membaca buku seharian mungkin tidak langsung terlihat hasilnya, tapi bisa memperkaya wawasan yang suatu saat menjadi bahan tulisan bernilai. Bahkan, beristirahat pun bisa dikategorikan produktif, jika istirahat itu membuat tubuh dan pikiran kembali segar untuk melanjutkan kerja esok hari.
Masalahnya, kita sering lupa mengakui kerja-kerja “tak terlihat” itu. Kita baru merasa puas kalau ada output nyata, entah itu berita tayang, artikel terbit, atau laporan selesai. Padahal proses menuju itu juga bagian dari produktivitas. Seorang jurnalis yang menghabiskan waktu tiga jam hanya untuk menelpon narasumber, meski tanpa hasil, tetap sedang produktif. Karena tanpa usaha itu, ia tidak akan pernah sampai pada tulisan yang matang. Produktif tidak selalu identik dengan hasil akhir, tapi juga proses yang dijalani.
Saya pikir, barangkali inilah alasan kenapa banyak jurnalis, penulis, atau pekerja kreatif lain sering dihantui rasa “kurang produktif”. Karena yang mereka kerjakan tidak selalu terlihat secara kasatmata, mereka jadi meremehkan jerih payah sendiri. Padahal, pekerjaan mental dan emosional itu sama beratnya, bahkan seringkali lebih melelahkan daripada pekerjaan fisik.
Kini saya mencoba mengubah cara pandang. Saya ingin mengukur produktivitas bukan dari seberapa sibuk tubuh saya bergerak, tapi dari seberapa jauh dampak yang saya hasilkan. Kalau hari ini saya berhasil menulis satu berita yang membuat orang tercerahkan, itu sudah cukup. Kalau hari ini saya hanya sempat membaca, tapi membaca itu memperkaya pengetahuan saya, itu juga produktif. Dan kalau hari ini saya hanya beristirahat, agar besok bisa bekerja lebih jernih, itu pun termasuk produktif.
Baca Juga: Jurnalisme Instan dan Menurunnya Minat Baca
Sebagai jurnalis, kita tidak harus selalu merasa bersalah karena tidak turun ke lapangan. Menjadi jurnalis bukan hanya soal meliput, tapi juga soal berpikir, menganalisis, menulis, dan menghubungkan titik-titik informasi yang tercecer. Semua itu adalah bagian dari kerja produktif, meski wujudnya tidak selalu berupa keringat.
Maka apakah produktif itu harus selalu dengan pekerjaan fisik? Menurut saya, tidak. Produktif adalah ketika apa yang kita lakukan, sekecil apapun, memberi makna. Bagi diri kita, bagi orang lain, atau bagi dunia. Dan makna itu tidak selalu hadir dalam bentuk keringat. Kadang, ia hadir dalam bentuk tulisan yang hening, dalam renungan panjang yang sunyi, atau dalam sebuah kalimat singkat yang mampu membuka mata banyak orang.
Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

