Empat Amalan Saat Rebo Wekasan

Empat Amalan Saat Rebo Wekasan


bulan shafar, rebo wekasan

Tradisi Rebo Wekasan sebagai tradisi Jawa di setiap tahunnya ini menjadi tradisi yang sudah turun temurun dan sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat Jawa. Dalam penanggalan Hijriyah, pelaksanaan tradisi Rebo Wekasan tepatnya dilakukan di bulan Safar khususnya pada hari Rabu terakhir di bulan tersebut. Di kalangan masyarakat, pelaksanaan tradisi Rebo Wekasan memiliki cara yang berbeda di setiap daerah, di mana tradisi tersebut erat kaitannya dengan Islam.

Dalam kitab Kanzun Najah Was-Surur, sebagian para wali mengungkapkan bahwa dalam setiap tahun pada hari Rabu terakhir di bulan Safar Allah Swt menurunkan 320.000 (tiga ratus dua puluh ribu) macam bala’ dimuka bumi ini. Sedangkan menurut kepercayaan Arab kuno, bulan Safar menjadi bulan yang penuh dengan bala’ (bencana). Dalam Islam yang berkaitan dengan perilaku masyarakat yang berkembang dalam memahami hadis Nabi, maka termasuk hadits yang hidup. Seperti dalam hadis di antaranya diriwayatkan dari Ibny Abbas tentang hari bencana, sebagai berikut:

عن ابن عباس قال: قال رسول الله ﷺ :آخر ‌أربعاء ‌في ‌الشهر ‌يوم ‌نحس

Artinya: “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, Nabi SAW bersabda “hari Rabu terakhir di setiap bulannya adalah hari sial yang terus menerus.”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Di dalam Al-Quran surat al-Qamar ayat 19, yang menjelaskan mengenai hari bencana yang berbunyi:

انَّآ اَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيْحًا صَرْصَرًا فِيْ يَوْمِ نَحْسٍ مُّسْتَمِرٍّۙ ً

Artinya: “Sesungguhnya kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus.”

Contents

Empat Amalan dalam Tradisi Rebo Wekasan

Sholat Sunnah Mutlaq

Sholat sunnah dua rakaat dilaksanakan secara individu oleh warga kampung sebagai bentuk permohonan perlindungan kepada Allah SWT dari segala bentuk bahaya. Pelaksanaannya dilakukan pada malam atau hari Rabu terakhir bulan Safar. Dalam pelaksanaannya, sebagian warga menyertakan doa khusus setelah sholat, memohon keselamatan pribadi, keluarga, dan kampung dari bala. Menurut penuturan warga, praktik ini telah dilakukan secara turun-temurun sebagai bentuk ikhtiar spiritual yang diyakini dapat menjadi pelindung dari segala bentuk bencana dan marabahaya.

“الصلاة خير موضوع، فمن شاء استكثر ومن شاء أقل.”

Artinya:“Sholat adalah perkara terbaik. Barang siapa yang ingin memperbanyak, maka lakukanlah.” (HR. Tirmidzi)

Membaca Surat Yasin

Pembacaan Surat Yasin dilakukan secara berjamaah di rumah atau mushola, biasanya dipimpin oleh tokoh agama seperti ustaz atau kiai. Pelaksanaannya dilakukan pada malam hari, dan diakhiri dengan doa bersama yang dikhususkan untuk memohon perlindungan dari bala. Warga mempercayai bahwa Surat Yasin memiliki keistimewaan dalam menenangkan jiwa dan sebagai wasilah untuk memohon perlindungan dari Allah SWT. Kegiatan ini juga menjadi momen penguatan hubungan sosial antarwarga karena dilakukan bersama-sama dan dilanjutkan dengan makan bersama secara sederhana.

“إن لكل شيء قلبا، وقلب القرآن يس، ومن قرأ يس كتب الله له بقراءتها عشر قراءات.”

Artinya:“Setiap sesuatu memiliki inti, dan inti dari Al-Qur’an adalah Yasin. Barang siapa membacanya, Allah mencatat baginya pahala seperti membaca sepuluh kali Al-Qur’an.” (HR. Tirmidzi)

Menulis Wafaq (Rajah)

Warga menuliskan rajah atau wafaq yang mengandung simbol dan ayat tertentu, lalu disimpan di rumah sebagai bentuk penjagaan spiritual. Di Desa Nagrak, praktik ini menjadi ciri khas penting dalam tradisi Tolak Bala. Menurut Kyai Juanda, seorang tokoh agama di desa tersebut, penulisan tamimah atau wafaq dilakukan khusus pada hari Rabu terakhir bulan Safar sebagai bentuk perlindungan dari bala dan musibah. Wafaq ditulis pada kertas putih yang berisi tujuh ayat salam dari Al-Quran, dan diyakini mampu menolak bala. Adapun asal-usul praktik ini merujuk pada kitab “Nihayah az-Zain” karya Syaikh Nawawi al-Bantani. Dalam kitab tersebut disebutkan bahwa pada malam Rabu terakhir bulan Safar, bala-bala diturunkan dari Lauh Mahfuz ke langit dunia. Barang siapa yang menulis tujuh ayat salam tersebut, kemudian melarutkannya dalam air dan meminumnya, maka ia akan selamat dari bala tersebut.

Warga menulis ayat-ayat tersebut di atas kertas dan meletakkannya di rumah, dompet, atau tempat lainnya sebagai bentuk perlindungan spiritual. Tamimah tersebut umumnya berisi tujuh ayat “Salamun” dari Al-Qur’an yang ditulis pada kertas putih. Ayat-ayat ini diambil dari beberapa surah dan diyakini mampu menghindarkan seseorang dari bala selama setahun ke depan. Praktik ini didasarkan pada kutipan dalam kitab “Nihayah az-Zain” karya Syaikh Nawawi al-Bantani, yang menyebutkan bahwa pada malam Rabu terakhir bulan Safar, takdir-takdir musibah diturunkan dari Lauh Mahfuz ke langit dunia. Barang siapa yang menuliskan tujuh ayat tersebut di dalam wadah, kemudian dihapus dengan air lalu diminum, maka ia akan terlindung dari bala yang turun di tahun tersebut.  Ketujuh ayat tersebut adalah:

  1. Yasin: 58 – Salāmun qawlan min rabbin raḥīm
  2. ash-Shaffat: 79 – Salāmun ‘alā Nūḥin fil ‘ālamīn
  3. ash-Shaffat: 109 – Salāmun ‘alā Ibrāhīm
  4. ash-Shaffat: 120 – Salāmun ‘alā Mūsā wa Hārūn
  5. ash-Shaffat: 130 – Salāmun ‘alā Āl Yāsīn
  1. 6. az-Zumar: 73 – Salāmun ‘alaikum ṭibṭum faudkhulūhā khālidīn
  2. 7. al-Qadr: 5 – Salāmun hiya ḥattā maṭla‘il fajr

Bersedekah

Sedekah menjadi bentuk konkret dari ajaran untuk saling berbagi dan membantu sesama. Pada hari Rebo Wekasan, masyarakat Babakan Sirna dan Nagrak saling mengirim makanan antar rumah, memberikan bingkisan kepada anak yatim atau tetangga yang kurang mampu Sedekah dalam tradisi Tolak Bala menjadi bagian penting yang tidak terpisahkan. Pada hari itu, masyarakat saling berbagi makanan, memberi bingkisan kepada tetangga dan kerabat, serta menyelenggarakan makan bersama. Warga percaya bahwa sedekah dapat menjadi wasilah untuk menolak bala dan mendatangkan keberkahan. Bentuk sedekah tidak hanya berupa makanan, tetapi juga bantuan materi lainnya kepada mereka yang membutuhkan, seperti anak yatim, lansia, atau tetangga yang sedang sakit. Kegiatan ini dilakukan dengan sukarela dan penuh keikhlasan sebagai bentuk solidaritas dan kepedulian sosial. Sedekah ini dipandang sebagai pelindung dari musibah, sebagaimana hadis yang menyatakan:

الصَّدَقَةُ تَسُدُّ سَبْعِينَ بَابًا مِنَ السُّوءِ”

Artinya: “Sedekah menutup tujuh puluh pintu keburukan.” (HR. Rafi’ bin Khadij – sanad lemah, tapi digunakan dalam keutamaan amal)

Selain aspek spiritual, sedekah dalam tradisi ini juga membentuk kohesi sosial, solidaritas, dan memperkuat ukhuwah Islamiyah. Anak-anak dilibatkan untuk ikut mengantar bingkisan, agar semangat berbagi ini dapat terus diwariskan lintas generasi. Dalam pelaksanaannya, masyarakat juga mengajarkan kepada anak-anak untuk ikut serta dalam bersedekah, baik dengan membagikan makanan maupun membantu orang tua menyiapkan keperluan. Dengan demikian, nilai-nilai gotong royong dan cinta kasih ditanamkan sejak dini. Selain memberi kepada sesama manusia, beberapa warga juga menyisihkan sebagian hasil tani atau usaha mereka untuk diberikan ke masjid atau pondok pesantren setempat sebagai bentuk rasa syukur dan menjaga keberkahan dalam rezeki.

Baca Juga: Menjawab Anggapan Malapetaka Rebo Wekasan


 
Penulis: Dimas Setyawan Saputro

Editor: Muh Sutan
 



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *