
Pesantren Tebuireng yang berdiri pada 3 Agustus 1899, bertepatan dengan 26 Rabi’ul Awal 1317 H., merupakan salah satu pusat pendidikan Islam tertua dan paling berpengaruh di Indonesia. Didirikan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, pesantren ini sejak awal menjadi benteng ilmu pengetahuan agama, pembinaan akhlak, dan penguatan kesadaran kebangsaan. Di tengah dinamika sosial dan politik pada masa pendiriannya, Tebuireng hadir sebagai lembaga yang memadukan tradisi keilmuan Islam dengan semangat perjuangan membebaskan tanah air dari penjajahan.
Baca Juga: 125 Tahun Perjalanan Pesantren Tebuireng
Kini, di usianya yang ke-126 tahun, Pesantren Tebuireng tetap memegang teguh misi tersebut. Dengan beragam inovasi, baik di bidang pendidikan formal, penguatan karakter, hingga pengembangan literasi media, Tebuireng terus mempersiapkan santri yang siap mengabdi kepada agama sekaligus berperan aktif dalam pembangunan bangsa. Tema Harlah tahun ini, “Memadukan Keislaman dan Keindonesiaan”, menjadi pesan moral bagi generasi penerus agar menjaga keseimbangan antara identitas religius dan tanggung jawab kebangsaan, terutama di era modern yang penuh tantangan.
Keselarasan Keislaman dan Keindonesiaan
Banyak orang masih beranggapan bahwa keislaman dan keindonesiaan adalah dua identitas yang berbeda, bahkan berpotensi bertentangan. Padahal, sejarah bangsa membuktikan sebaliknya. Kedua nilai ini berjalan beriringan dan saling menguatkan. Ulama dan santri, termasuk KH. Hasyim Asy’ari, membuktikan bahwa pengabdian kepada agama dapat sejalan dengan perjuangan membela tanah air. Salah satu contohnya adalah lahirnya Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 yang menjadi pemicu semangat perlawanan rakyat terhadap penjajah, mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan bangsa.

Dalam pandangan Islam, mencintai tanah air merupakan bagian dari iman. Prinsip rahmatan lil ‘alamin yang diajarkan Islam sejalan dengan nilai-nilai Pancasila dan konstitusi negara. Keindonesiaan memberi ruang bagi umat Islam untuk berkontribusi membangun peradaban, sementara ajaran Islam memperkaya kepribadian bangsa dengan nilai keadilan, kemanusiaan, dan persatuan. Memadukan keduanya berarti menghidupkan semangat beragama yang moderat, toleran, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.
Tebuireng sebagai Wadah Harmoni Nilai
Pesantren Tebuireng sejak awal berdirinya memposisikan diri sebagai lembaga yang menanamkan kesadaran bahwa menjadi Muslim Indonesia berarti mengemban dua amanah sekaligus: taat kepada ajaran agama dan setia membangun tanah air. Hal ini tercermin dalam sistem pendidikannya yang menekankan penguatan akidah, pengamalan ibadah, dan pembinaan akhlak mulia. Selain itu, santri juga diajak memahami pentingnya hidup rukun dalam keberagaman, menghargai perbedaan, dan menjaga persatuan.
Baca Juga: Transformasi Literasi 125 Tahun Pesantren Tebuireng
Dalam perkembangannya, Tebuireng tidak hanya fokus pada ilmu agama, tetapi juga membekali santri dengan keterampilan yang relevan dengan zaman. Di era modern, keterampilan literasi, teknologi, dan komunikasi menjadi bagian dari kurikulum pengembangan diri. Inisiatif ini menjadikan Tebuireng bukan hanya sebagai pusat pendidikan Islam, tetapi juga sebagai laboratorium sosial yang menghasilkan generasi berkarakter, cerdas, dan adaptif terhadap perubahan.
Literasi Media sebagai Dakwah Kekinian
Salah satu inovasi penting yang dikembangkan Pesantren Tebuireng adalah penguatan literasi media di kalangan santri. Melalui platform seperti Tebuireng Online, santri dilatih menulis berita, opini, dan artikel yang mengandung nilai edukasi dan dakwah. Kegiatan ini tidak sekadar melatih keterampilan jurnalistik, tetapi juga membentuk kesadaran kritis dalam mengolah informasi serta mempraktikkan etika komunikasi yang baik.
Literasi media menjadi penting di era digital karena informasi yang salah, hoaks, dan ujaran kebencian dapat dengan cepat menyebar dan merusak persatuan. Santri yang terampil menulis dan memahami kaidah jurnalistik dapat menjadi agen perubahan positif di ruang publik. Mereka menyampaikan pesan-pesan damai, membela kebenaran, dan menebarkan nilai-nilai Islam yang ramah. Dengan begitu, dakwah Islam dapat hadir secara relevan, menarik, dan mampu menjangkau masyarakat luas.
Menjawab Tantangan Zaman
Perpaduan keislaman dan keindonesiaan yang diajarkan Tebuireng menjadi jawaban atas tantangan global saat ini. Fenomena radikalisme, degradasi moral, polarisasi politik, hingga lunturnya budaya lokal memerlukan respons yang bijak dan terarah. Pendidikan di Tebuireng berperan penting dalam menanamkan moderasi beragama, menguatkan rasa nasionalisme religius, dan membekali santri dengan keterampilan untuk memanfaatkan teknologi secara positif.
Dengan bekal ini, santri diharapkan mampu menjadi tokoh masyarakat yang membawa pesan kebaikan, mempererat persatuan, dan berkontribusi pada kemajuan bangsa. Keislaman yang kokoh berpadu dengan keindonesiaan yang kuat menjadikan mereka pribadi yang tangguh, siap menghadapi arus perubahan tanpa kehilangan jati diri.
Inspirasi untuk Generasi Muda
Harlah ke-126 Pesantren Tebuireng bukan sekadar perayaan sejarah, tetapi juga momentum untuk membangkitkan semangat generasi muda. Santri dan pemuda Muslim Indonesia dapat belajar dari jejak perjuangan ulama dan pendahulu bangsa yang mampu menyeimbangkan tugas agama dengan pengabdian kepada negeri.
Semangat belajar, keberanian untuk menulis dan berkarya, kepedulian terhadap lingkungan sekitar, serta komitmen menjaga identitas sebagai Muslim Indonesia adalah nilai-nilai yang patut diteladani. Generasi muda diharapkan mampu membawa nilai-nilai ini ke berbagai lini kehidupan, mulai dari dunia pendidikan, media, hingga aktivitas sosial dan ekonomi.
Baca Juga: Membangun Karakter Santri dengan Islam Ahlussunnah wal Jamaah
Perjalanan panjang Pesantren Tebuireng adalah bukti bahwa pendidikan Islam mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan esensi. Memadukan keislaman dan keindonesiaan bukan hanya menjadi semboyan, tetapi juga praktik nyata yang telah dijalankan dalam kehidupan sehari-hari para santri, pengajar, dan alumninya. Keteladanan KH. Hasyim Asy’ari dan para penerusnya menjadi fondasi kuat yang terus menginspirasi, bahwa cinta kepada agama dan tanah air dapat berjalan beriringan.
Nilai-nilai yang diajarkan di Tebuireng memberi bekal bagi santri untuk mengarungi kehidupan dengan kompas moral yang jelas. Di satu sisi, mereka dipandu untuk menjalankan syariat Islam dengan penuh ketaatan. Di sisi lain, mereka didorong untuk menjadi warga negara yang aktif, kreatif, dan produktif dalam membangun bangsa. Inilah sinergi yang dibutuhkan Indonesia saat ini, pribadi-pribadi yang mampu menjaga akidah sekaligus menggerakkan kemajuan.
Ke depan, di tengah derasnya arus globalisasi dan teknologi, tantangan yang dihadapi generasi muda akan semakin kompleks. Pesantren Tebuireng melalui literasi media dan pendidikan karakter membekali santri agar tidak hanya menjadi pengikut arus, tetapi menjadi pembawa arah. Dakwah yang dilakukan melalui media digital, karya tulis, dan kegiatan sosial menjadi jembatan bagi santri untuk menyuarakan Islam yang damai dan keindonesiaan yang inklusif.
Momentum Harlah ke-126 ini menjadi panggilan bagi semua pihak -santri, alumni, pendidik, dan masyarakat luas- untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun peradaban. Menghidupkan semangat memadukan keislaman dan keindonesiaan berarti merawat warisan sejarah, mempersiapkan masa depan yang harmonis, dan memastikan bahwa nilai-nilai luhur tidak terkikis oleh zaman. Dengan semangat tersebut, diharapkan Indonesia akan terus tumbuh sebagai bangsa yang kokoh iman dan kukuh persatuannya.
Penulis: Wahyu Nur Oktavia
Editor: Rara Zarary
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

