Belajar Memilah, karena Tidak Semua Suara Layak Didengar

Belajar Memilah, karena Tidak Semua Suara Layak Didengar


Ada masa dalam hidup ketika kita merasa suara di luar sana terlalu ramai. Semua orang tampak punya pendapat, semua orang merasa berhak memberi penilaian. Kadang datangnya dari orang dekat, kadang dari orang yang bahkan tak mengenal kita sama sekali. Mereka berbicara tentang siapa kita, apa yang seharusnya kita lakukan, dan bagaimana kita seharusnya bersikap. seolah hidup kita adalah buku terbuka yang bisa mereka ubah sesuka hati.

Baca Juga: Paradoks Surga dan Keadilan yang Terlupakan

Sebagian kata datang dengan niat baik dan tulus, seperti lilin yang memberi terang di ruang yang gelap. Tetapi sebagian lainnya hanya seperti angin dingin yang menyusup tanpa permisi yang kemudian meninggalkan rasa tidak nyaman. Di tengah semua itu, kita sering lupa satu hal penting, bahwa kita tidak wajib mendengarkan semua suara.Hidup bukan tentang menjadi sesuai dengan selera semua orang. Hidup adalah tentang menjaga arah langkah, menjaga damai, dan menjaga telinga kita dari suara yang hanya akan melemahkan hati.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Budaya ‘Menghakimi” yang Makin Bising

Manusia memiliki kecenderungan alami untuk menilai. Namun, yang menjadi masalah adalah ketika penilaian itu dilakukan tanpa pemahaman, tanpa mau mendengar cerita lengkap, bahkan tanpa mengenal orang yang dinilai. Inilah yang disebut penghakiman buta.

Di era media sosial, fenomena ini terjadi secara besar-besaran. Satu foto, satu status, atau satu potongan video bisa memicu banjir komentar dan pandangan yang ‘ngalor ngidul’. Banyak orang merasa menjadi paling benar, memutuskan apa yang benar dan salah tanpa pernah bertanya bagaimana cerita sebenarnya. Budaya seperti ini membuat kita terbiasa menerima opini mentah yang tidak selalu membawa manfaat.

Jika kita tidak hati-hati, kita akan terus-menerus menyesuaikan diri dengan standar yang berubah-ubah sesuai selera publik. Akhirnya, kita akan kehilangan jati diri hanya demi menghindari komentar negatif.

Menjadi Tuli Sebagai Strategi Sehat

‘Menjadi tuli’ bukan ajakan untuk mengabaikan semua masukan. Ini adalah bentuk perlindungan diri dan strategi untuk menyaring suara. Kita tetap bisa menerima kritik yang bermanfaat, tetapi harus berani menutup telinga untuk komentar yang hanya meruntuhkan semangat atau menambah keraguan pada diri sendiri.

Baca Juga: Kisah Anak Yatim Hidup Bahagia Bersama Rasulullah

Menjadi tuli disini berarti mengatur jarak dan setting boundaries. Kita tidak membiarkan kata-kata yang salah atau merendahkan menetap terlalu lama di pikiran. Kita harus tegas pada diri sendiri dan orang lain dengan membangun batasan seperlunya menurut pribadi masing-masing. Beri ruang bagi yang membangun, dan menutup pintu untuk yang hanya membawa kebisingan. Dengan begitu, kita tidak membiarkan kehidupan kita dikendalikan oleh opini yang datang dari luar, terutama dari mereka yang tidak memikul beban hidup yang kita jalani.

Memilih Suara, Menemukan Arah Damai di Dalam Diri

Ketika kita belajar memilah suara, kita sebenarnya sedang memberi kesempatan pada suara hati untuk terdengar lebih jelas. Dalam kebisingan dunia, suara hati sering kalah keras. Ia lenyap di antara komentar, saran, dan penghakiman orang lain. Memilih suara berarti bertanya apakah ini membantu kita tumbuh? Apakah ini akan membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik? Jika jawabannya tidak, maka biarkan saja ia berlalu seperti angin yang lewat. Langkah ini akan membuat kita lebih percaya pada penilaian diri sendiri, dan tidak mudah goyah oleh komentar negatif.

Pada akhirnya, kita tidak bisa membuat semua orang setuju atau puas dengan apa yang kita lakukan. Kita hanya bisa berjalan sesuai nilai dan tujuan yang kita yakini, sambil membuka telinga hanya untuk suara yang membawa kebaikan. Sebab, hidup ini adalah perjalanan pribadi. Orang lain boleh hadir di sepanjang jalan, namun tidak semua dari mereka berhak memegang peta kita. Ada yang akan memberi arah dengan tulus, dan ada yang hanya menambah kebingungan dengan suara bising yang dirasa tak perlu.

Baca Juga: Tiga Golongan Manusia, Kamu Masuk Bagian Mana?

Memilah suara adalah bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Kita menjaga telinga seperti kita menjaga rumah yang hanya membukanya untuk tamu yang membawa kebaikan, bukan yang datang untuk merusak. Sebab, ketika kita membiarkan terlalu banyak suara asing masuk, kita berisiko kehilangan bunyi paling penting, suara hati kita sendiri.

Belajarlah untuk diam di tengah riuh, untuk memilih mana yang layak didengar, dan untuk tidak ragu menutup telinga pada yang merugikan. Karena ketenangan yang sebenarnya berasal dari hati yang tahu mana yang pantas ia dengarkan. Dan ketika hati itu tenang, langkah kita pun akan lebih mantap, tanpa terguncang oleh teriakan siapa pun di luar sana.


Penulis: Helfi Livia Putri
Editor: Rara Zarary



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *