
Teman Bertopeng
Kau datang seperti mentari pagi,
Hangat menyapa, penuh janji,
Tapi siapa sangka, di balik senyummu,
Ada pisau runcing mengarah padaku.
Kau sebut itu candaan,
Tapi mengapa aku yang selalu jadi bahan?
Tawa kalian keras, aku diam tertahan,
Menahan luka yang tak bisa diobatkan.
Teman, katamu.
Tapi di mataku, kau hanya aktor dalam drama palsu.
Membuatku ragu pada persahabatan itu,
Dan pada diriku yang dulu percaya padamu.
Aku kecewa,
Bukan karena kau menyakitiku,
Tapi karena aku pernah menganggapmu rumah,
Saat ternyata kau adalah badai.
Tanda Tanya yang Tak Pernah Terjawab
Apa salahku hingga kalian tertawa?
Wajahku? Tubuhku? Caraku bicara?
Aku manusia, bukan boneka sandiwara,
Yang bisa dipermainkan tanpa rasa.
Pantaskah aku jadi bahan?
Hanya karena tak seperti kalian?
Berbeda tak berarti hina,
Tapi mengapa aku seperti sampah di mata?
Apa kalian lebih sempurna?
Atau hanya sedang menutupi luka?
Menginjak orang lain agar kalian lebih tinggi,
Padahal jiwa kalian sendiri pun sunyi.
Pantaskah aku dibully?
Tidak.
Tapi dunia kadang kejam tanpa logika,
Dan aku hanya butuh satu suara yang berkata,
“Kau berharga.”
Cermin yang Tak Pernah Ramah
Setiap pagi aku menatap cermin,
Bukan mencari cantik,
Tapi mencari alasan,
Mengapa aku merasa tak cukup di segala hal.
Tubuhku? Terlalu besar.
Suaraku? Terlalu pelan.
Kepalaku? Penuh keraguan.
Hatiku? Retak oleh pembandingan.
Aku bukan mereka yang penuh pujian,
Bukan ia yang selalu jadi pusat perhatian.
Aku berdiri di bayang-bayang,
Dan perlahan, bayangku sendiri membuatku hilang.
Insecure kata modern untuk luka lama,
Yang dipoles oleh standar yang bukan milikku.
Aku ingin sembuh,
Tapi dunia terlalu riuh untuk mendengar rintihku.
Namun hari ini,
Aku mencoba
Mencintai sedikit dari diriku yang utuh.
Meski masih ragu,
Tapi aku tak akan terus jatuh.
Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary

Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru
