
Dalam beberapa pekan terakhir, media sosial dan ruang publik diwarnai oleh pemandangan yang tak biasa, yakni pengibaran bendera bajak laut dari anime One Piece di berbagai tempat, mulai dari halaman rumah hingga perahu nelayan. Meski berasal dari dunia fiksi, lambang bendera berlatar hitam dengan gambar tengkorak tersenyum bertopi jerami dan dua tulang menyilang ini tampaknya telah menjelma menjadi simbol yang jauh lebih dalam maknanya bagi sebagian masyarakat, khususnya generasi muda. Di balik desainnya yang sederhana, bendera ini memuat pesan kuat, yakni keberanian melawan penindasan, tekad dalam mengejar mimpi, dan solidaritas antarsesama.
Fenomena ini bisa dibaca sebagai bentuk ekspresi publik yang memadukan budaya populer dengan kondisi sosial yang nyata. Sebagian masyarakat memaknai pengibaran bendera ini sebagai simbol kekecewaan terhadap kondisi politik dan pemerintahan. Mereka yang mengibarkannya seolah ingin mengatakan bahwa mereka merindukan semangat perjuangan, keadilan, dan perubahan nyata nilai-nilai yang seharusnya menjadi roh dari kemerdekaan itu sendiri.
Baca Juga: Gus Kikin Sebut Persatuan Umat Islam Kunci Kemerdekaan dan Keberhasilan Bangsa
Disatu sisi, penggunaan simbol fiksi seperti ini justru menunjukkan kreativitas masyarakat dalam menyampaikan keresahan. Simbol anime yang awalnya hanya bentuk hiburan kini menjadi alat komunikasi sosial yang kuat.
One piece sendiri adalah sebuah seri manga dan anime karya Eiichiro Oda yang bercerita tentang petualangan seorang pemuda bernama Monkey D. Luffy dan krunya dalam mencari harta karun legendaris bernama “One Piece”,yakni harta karun yang ditinggalkan oleh Raja Bajak Laut sebelumnya, Gol D. Roger, di ujung dunia, tepatnya di pulau terakhir bernama Raftel (atau Laugh Tale). One Piece sebenarnya punya banyak kaitan simbolik dan alegoris dengan dunia nyata, baik dari segi politik, sejarah, budaya, maupun nilai-nilai kemanusiaan.

Hal ini terbukti dari ceritanya seperti Penyensoran & Penghapusan Sejarah terhadap pulau Arc ohara,cerita tentang diskriminasi dan penindasan oleh Arc Arlong park, serta cerita World Government (Pemerintah Dunia) di One Piece yang mencerminkan organisasi internasional seperti PBB, tetapi dengan sisi gelap yang menunjukkan bagaimana kekuasaan absolut bisa korup. Kesemua cerita tadi dianggap sesuai dengan dinamika dunia yang terjadi.
Menjelang perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, pengibaran bendera ini ditafsirkan oleh sebagian pihak sebagai bentuk ekspresi sosial yang menggambarkan kekecewaan terhadap kondisi pemerintahan. Aksi ini seolah menjadi simbol protes diam yang menyuarakan ketidakpuasan rakyat terhadap situasi yang dianggap belum mencerminkan semangat kemerdekaan secara utuh.
Refleksi Kemerdekaan dalam Simbol Fiksi
Jika ditelaah lebih dalam, aksi mengibarkan bendera One Piece menjelang HUT RI bukan sekadar tren budaya pop, melainkan bentuk refleksi sosial. Masyarakat yang mengibarkan bendera ini seakan ingin mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan hanya seremoni tahunan, melainkan tentang kesejahteraan, keadilan, dan kebebasan berpendapat. Nilai-nilai itulah yang diperjuangkan oleh para tokoh dalam One Piece, dan kini diadopsi secara simbolik oleh masyarakat sebagai bentuk kegelisahan atas realitas yang dihadapi.
Baca Juga: Rahmat Allah Kunci Utama Mempertahankan Kemerdekaan
Kita tidak bisa menafikan bahwa bendera memiliki kekuatan simbolik yang besar. Dalam sejarah, bendera kerap menjadi lambang perlawanan dan pemersatu semangat kolektif. Dalam hal ini, penggunaan bendera One Piece menunjukkan bagaimana generasi muda menggunakan referensi budaya populer untuk menyuarakan suara hati mereka. Ini juga menandakan bahwa ada ruang kosong dalam komunikasi antara rakyat dan pemerintah yang perlu dijembatani.
Meski begitu, penting untuk diingat bahwa kebebasan berekspresi tetap memiliki koridor. Ketika simbol-simbol alternatif masuk ke ruang publik yang juga dihiasi lambang negara, masyarakat harus tetap menjaga sensitivitas dan memahami batas hukum yang berlaku. Aspirasi boleh disuarakan, tetapi tidak dengan cara yang bisa menyinggung kehormatan simbol-simbol kenegaraan. Jangan sampai niat menyampaikan aspirasi justru disalahartikan sebagai tindakan yang merendahkan lambang negara.
Di sisi lain, pemerintah juga seyogianya tidak tidak buru-buru menilai fenomena semacam ini sebagai bentuk pelanggaran atau ancaman, serta melihat fenomena ini sebagai tindakan subversif atau sekadar pelanggaran aturan. Justru ini menjadi momentum untuk mendengar, memahami, dan memperbaiki dan menjadi bahan introspeksi, serta momentum untuk memperbaiki kebijakan yang belum menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Ekspresi semacam ini adalah cerminan bahwa ada kegelisahan yang perlu ditanggapi, bukan ditekan. Simbol pop culture seperti bendera One Piece bisa menjadi jembatan komunikasi antara rakyat dan penguasa, jika dibaca dengan sudut pandang yang lebih terbuka.
Baca Juga: Pesan Kemerdekaan untuk Ribuan Santri Tebuireng
Pengibaran bendera One Piece menjelang HUT RI ke-80 bukanlah sekadar aksi nyeleneh tanpa makna. Ia adalah cermin dari suara-suara yang belum tersampaikan secara langsung. Ketika simbol fiksi dijadikan media untuk menyalurkan pendapat, itu menunjukkan bahwa masyarakat khususnya generasi muda tidak apatis, melainkan sedang mencari cara baru untuk menyampaikan kegelisahan mereka.
Penulis: Muhammad Fatkhun Ni’am
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

