
Hari itu langit mendung di atas Kampung Sukamakmur, seakan ikut bersedih bersama tanah yang tak pernah mengerti apa arti “merdeka.” Tak ada umbul-umbul. Tak ada suara anak-anak menyanyikan lagu perjuangan. Yang ada hanya suara batuk Mak Sanah dari dapur reyotnya, bau kayu bakar dari tungku yang selalu hidup, dan langkah kaki anak-anak yang menyeret sandal jepit putus menuju sungai yang keruh.
Kampung Sukamakmur, bagian dari pelosok negeri yang tak pernah tercantum dalam peta. Tak pernah pula dikunjungi oleh pejabat, apalagi wartawan. Jangankan bendera, sebagian besar warga bahkan tidak tahu kapan tepatnya Hari Kemerdekaan Indonesia. Bagi mereka, hari-hari adalah soal bagaimana perut tetap terisi dan anak-anak tidak jatuh sakit karena air yang kotor.
Di pojok kampung, di rumah panggung yang kayunya mulai lapuk, tinggal seorang pemuda bernama Arif. Ia baru kembali dari kota setelah gagal mencari kerja. Ijazahnya dari sekolah kejuruan tak mampu membawanya menembus gerbang pabrik-pabrik besar. “Kurang pengalaman,” kata mereka. Tapi pengalaman hidup di kampung yang keras dan miskin rupanya tak pernah cukup bernilai.
Arif duduk di beranda, memandangi langit. Di genggamannya sebuah kain lusuh berwarna merah dan putih. Warna benderanya pudar, tapi kenangannya masih utuh. Itu bendera yang dulu dibawanya dari sekolah saat masih duduk di bangku SD. Dulu, tiap 17 Agustus, sekolahnya meriah, ada lomba balap karung, panjat pinang, dan upacara bendera yang membuatnya berdiri gagah dengan seragam putih abu-abu.
Tapi di Kampung Sukamakmur, tak ada semua itu. Bahkan tiang bendera pun tidak ada.

“Mas Arif, itu kain apa?” tanya Rini, bocah perempuan berumur tujuh tahun, anak Mak Sanah. Bajunya kebesaran, rambutnya berantakan, tapi matanya jernih.
“Ini bendera, Rin. Merah putih. Lambang negara kita.”
Rini mengernyit. “Negara?”
Arif terdiam. Apa arti negara bagi anak-anak seperti Rini yang tak pernah merasakan listrik stabil, sekolah layak, atau jalan yang bisa dilalui tanpa harus melompat genangan?
Di kampung ini, negara adalah sesuatu yang jauh. Terlalu jauh.
Malamnya, Arif duduk bersama beberapa warga di warung Pak Soleh, satu-satunya tempat berkumpul yang punya radio tua. Di sana ada Pak Darman, petani tua yang selalu membawa rokok linting, dan Bu Erna, janda dua anak yang mencari nafkah dengan menjahit. Obrolan mereka ringan, harga beras, musim hujan, dan tentang kabar ada bantuan pemerintah yang tak pernah sampai ke desa mereka.
“Besok tujuh belasan, loh,” ucap Arif tiba-tiba. Semua terdiam.
“Ya? Tanggal berapa sekarang?” tanya Bu Erna.
“Enambelas,” jawab Arif pelan.
Pak Darman tertawa pendek. “Ah, tiap tahun lewat begitu saja. Kita merdeka katanya, tapi harga pupuk makin mahal, sekolah jauh, dan kalau sakit harus naik perahu dulu ke seberang cari klinik. Di mana merdekanya?”
Tak ada yang membantah. Arif pun diam. Tapi dalam hatinya tumbuh keresahan. Ia merasa bersalah, seolah mengkhianati makna kemerdekaan hanya dengan membiarkan hari itu berlalu tanpa makna.
Malam itu, Arif menyalakan lampu petromaks. Ia keluarkan kain merah putih dari sakunya. Ia bersihkan dengan air hangat. Lalu ia berjalan ke tengah lapang kecil, tempat anak-anak biasa bermain. Di sana berdiri satu batang bambu kering. Ia tanam kuat di tanah, lalu mengikat bendera di ujungnya.
Keesokan paginya, saat matahari belum tinggi, Rini melihat sesuatu yang berbeda. Ia berlari dan memanggil teman-temannya. Mereka berdatangan, menatap tiang bambu yang kini menjulang dengan merah putih berkibar pelan.
“Mas Arif pasang bendera!” seru Rini.
Anak-anak berkerumun. Lalu orang dewasa datang. Satu per satu, dengan rasa heran yang bercampur malu. Seakan baru menyadari bahwa mereka telah lama lupa pada sesuatu yang seharusnya penting.
Arif berdiri di depan tiang itu. Ia mengambil posisi tegak. “Ayo kita hormat. Meski tak ada lagu, kita berdiri dan ingat, kita masih punya tanah ini. Kita masih hidup.”
Tak ada musik. Tak ada komandan upacara. Tapi semua berdiri. Dengan kepala sedikit menunduk. Entah karena malu, sedih, atau karena tiba-tiba merasa punya sesuatu untuk dihormati.
Setelah itu, Arif berbicara.
“Kita ini bagian dari negeri yang katanya merdeka. Tapi kita sering merasa dilupakan. Tapi hari ini, kita bisa mulai dari sini. Merdeka itu bukan hanya urusan bendera atau upacara. Merdeka itu ketika anak-anak bisa sekolah tanpa takut jembatannya roboh. Ketika kita bisa berobat tanpa menjual sapi satu-satunya. Merdeka itu ketika kita bisa bersuara, dan suara kita didengar.”
Pak Darman mengangguk pelan. Bu Erna mengusap mata. Dan anak-anak… mereka mulai bertanya-tanya. Apa itu merdeka? Apa itu perjuangan? Dan mengapa tak pernah ada lomba balap karung di kampung mereka?
Hari itu, Arif dan warga memutuskan sesuatu yang sederhana tapi berarti. Mereka bersihkan lapangan. Anak-anak diajari lagu “Hari Merdeka” meski fals dan pelan. Ibu-ibu membuat tumpeng sederhana dari hasil kebun. Dan malamnya, mereka menyalakan api unggun kecil. Di sekelilingnya mereka bercerita, tertawa, dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Kampung Sukamakmur tak punya televisi, tak punya baliho besar bertuliskan “Dirgahayu RI,” tapi malam itu mereka punya harapan.
Dan Arif tahu, dari situlah kemerdekaan bisa mulai tumbuh kembali, bukan dari istana atau pidato pejabat, tapi dari tanah-tanah kecil yang mulai berani menyebut diri mereka sebagai bagian dari Indonesia.
Bendera itu tetap berkibar, meski tiangnya hanya bambu dan talinya hanya bekas tambang. Tapi kini, ia tidak lagi hanya sepotong kain. Ia menjadi tanda bahwa rakyat belum selesai mencintai negeri ini, meski negeri ini kadang lupa mencintai mereka kembali.
Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

