Rumah Pesantren | Tebuireng Online

Rumah Pesantren | Tebuireng Online


Ilustrasi pesantren dan santri (sumber: Ist/2021)

Dari bilik sempit di lantai dua asrama, Reza menatap kosong ke luar, ke arah menara masjid yang sunyi. Sudah lima bulan sejak pertama kali ia masuk ke pondok pesantren ini. Lima bulan yang rasanya lebih seperti lima tahun.

Ia baru saja menyandang status sebagai santri, tapi hatinya masih asing di tempat ini. Ia belajar, tapi pikirannya melayang-layang. Hafalan tertinggal, pelajaran tak menyerap, tidur tak nyenyak, makan tak enak.

“Aku gak kuat, Bu… Aku gak betah,” kata-kata itu nyaris menjadi rutinitas dalam tiap telepon singkatnya pada ibu di rumah. Selalu lirih, hampir putus asa. Tapi bukan sekadar keluhan anak manja, ada kehampaan yang nyata dalam suaranya.

Ibunya, Bu Marni, seorang perempuan sederhana dengan wajah yang selalu tampak cemas, sudah mencoba segalanya. Ia datang ke pondok, membawakan makanan kesukaan Reza, mengelus rambut anaknya, menghibur dengan cerita-cerita kampung, bahkan kadang menangis bersamanya.

“Reza sudah berjuang, Nak… Ibu tahu ini berat. Tapi coba bertahan sedikit lagi ya… Demi masa depanmu,” katanya waktu itu, menggenggam tangan Reza di bawah pohon mangga dekat gerbang pesantren.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Tapi Reza tetap tak betah. Bahkan pernah melarikan diri diam-diam saat Subuh, hanya untuk ditemukan sore harinya di terminal kota. Ia tak kuat dengan sunyi pondok, dengan jadwal ketat, dengan rasa kesepian yang menampar tiap malam.

Ayah Reza, Pak Zaini, yang awalnya tegas dan keras, mulai luluh. Ia dan Bu Marni bahkan diam-diam mendatangi beberapa tokoh agama dan kiai, memohon doa agar anaknya kuat, agar hatinya tertambat di jalan Allah. Mereka juga, dengan rasa bersalah yang tak bisa mereka ceritakan ke siapa pun, pernah menemui seorang “orang pintar” yang katanya bisa membantu meluluhkan hati anak-anak yang keras.

Ada hari-hari ketika Reza tampak berubah. Lebih tenang, lebih bisa mengikuti jadwal, lebih bisa tersenyum. Tapi itu hanya sesaat. Seperti api kecil yang tak pernah sempat menyala sempurna, redup kembali dalam waktu singkat.

“Ibu sudah capek, Pak,” kata Bu Marni suatu malam di teras rumah. Suaranya serak, matanya sembab. “Mungkin memang bukan jalannya Reza di pondok.”

Pak Zaini hanya diam. Rokok di tangannya padam tertiup angin.

Tapi takdir kadang bekerja di luar rencana manusia.

*****

Suatu malam, Reza terbangun lebih awal dari biasa. Suara azan belum terdengar, tapi ia merasa ada yang menggugahnya. Dari balik jendela, ia melihat langit masih pekat, tapi bintang-bintang bersinar terang. Di kejauhan, samar-samar ia melihat sosok tua berjalan perlahan ke arah masjid, membawa sajadah. Sendiri. Tertatih. Tapi pasti.

Itu Kiai Nawawi, pengasuh pondok.

Entah mengapa, kali itu Reza mengikuti langkah kiai itu. Diam-diam, ia masuk masjid, duduk di sudut belakang. Melihat. Merenung.

Kiai Nawawi tidak membaca doa keras, tidak menangis tersedu, tidak pula mengucap zikir panjang. Ia hanya duduk, menunduk lama, lalu bersujud dalam hening. Lama sekali. Dalam sujud itu, Reza merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan: hening yang dalam, damai yang nyata.

Setelah subuh, ia pulang ke kamar. Tak bicara pada siapa pun. Tapi hari itu, ia tidak tidur saat pelajaran. Ia mulai mencatat. Ia mencoba menghafal, meski terbata. Ia menyapa ustadz lebih dulu. Tak ada keajaiban besar, tapi itu awal.

Dan hari-hari pun berlalu, perlahan-lahan berubah.

Beberapa pekan kemudian, ia meminta izin pada ustadznya untuk menelepon ibu. Suara Reza terdengar berbeda.

“Bu… aku ingin coba lebih serius. Tapi aku pengin ibu sama bapak datang… pengin ngobrol.”

Minggu itu, keluarga kecil itu duduk di bawah pohon mangga. Seperti dulu. Tapi dengan suasana yang baru.

Reza tak lagi menangis. Ia bicara tenang, dengan jeda-jeda panjang.

“Aku gak ngerti, Bu… tapi aku capek lari terus. Capek nyalahin semuanya. Aku cuma pengin coba paham… hidup ini buat apa. Dan di sini, walaupun berat, aku merasa mungkin… ini tempat buat belajar itu.”

Mata Bu Marni basah. Pak Zaini memalingkan wajah, menyeka air mata yang jatuh tanpa diundang.

Hari itu, mereka tidak membawa oleh-oleh makanan. Tapi membawa satu hadiah kecil: sebuah buku berjudul Risalah Hati karya seorang sufi. “Dari seorang teman Ayah,” kata Pak Zaini.

Reza membaca buku itu malam harinya. Ia tidak langsung mengerti, tapi kata-katanya menenangkan. Ada satu kalimat yang terus ia ingat: “Siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”

Beberapa bulan kemudian, Reza meminta izin untuk mengaji khusus pada seorang guru baru di pondok, Ustadz Luqman. Ia bukan kiai tua, tapi terkenal karena kedalaman ilmunya. Kata-katanya sederhana, tapi masuk ke hati. Ia tidak banyak mengajarkan hukum-hukum fikih, tapi lebih banyak bertanya: “Apa makna hidup buatmu? Untuk siapa kau bangun pagi? Kenapa kau ingin disukai orang lain?”

Reza semakin dekat. Semakin dalam. Ia bukan lagi santri yang ingin lulus cepat. Ia mulai menikmati tiap lelah sebagai bagian dari perjalanan pulang kepada Tuhannya.

Ia menulis surat untuk orang tuanya:

Bu, Pak… terima kasih sudah sabar dengan anak yang keras kepala ini. Sekarang aku ngerti… pondok bukan tempat buang-buang waktu. Tapi tempat untuk menempa hati. Terima kasih sudah tidak menyerah. Doakan aku tetap di jalan ini.

Tahun-tahun berlalu. Reza menamatkan jenjang belajar, lalu diminta mengabdi di pondok. Ia menjadi ustadz muda, mengajar adik-adik kelas, menemani mereka melewati badai-badai kecil yang dulu juga ia rasakan.

Suatu sore, saat matahari menggantung rendah, ia berjalan di halaman pondok, melihat seorang santri kecil duduk menyendiri. Wajahnya muram. Reza mendekat, duduk di sampingnya.

“Kenapa, Nak?”

“Rindu rumah, Ustadz…”

Reza tersenyum, menepuk bahunya. “Aku juga pernah seperti kamu. Tapi percaya, kalau kamu bertahan… tempat ini bisa jadi rumah yang paling damai di dunia.”

Malam itu, Reza mengirim pesan pada ibunya:

Bu… pondok ini dulu seperti penjara. Tapi sekarang… tempat ini adalah rumah. Tempat aku tumbuh, jatuh, dan bangkit. Terima kasih karena dulu Ibu dan Bapak tak berhenti percaya. Aku akan terus belajar, mengajar, dan menjaga tempat ini… dengan doa dan cinta.

Di balik semua itu, Ibu, Bapak, Kiai dan banyak orang tersenyum. Sebab seorang anak yang hampir hilang arah… telah menemukan pulangnya. Reza menemukan rumah itu. Pesantren.



Penulis: Ummu Masrurah



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *