
Entah mengapa mencintai dalam diam membuat aku lebih menikmatinya ketimbang bersuara dan mengungkapkan rasa itu kepadanya. Alam, empat huruf sederhana yang diam-diam aku jaga dalam diam, sejak empat tahun lalu lamanya. Bukan cinta pada pandang pertama, tapi lebih ke sebuah rasa yang tumbuh pelan tanpa sengaja dan dipinta, layaknya embun pagi yang perlahan memenuhi dan menghampiri kaca jendela. Tidak bising, dan tidak heboh, tapi ada dan menetap hingga usai waktunya berada.
Awalnya kami hanya teman disuksi lomba. Memang satu grup, satu folder google drive, dan satu-satunya orang yang bikin aku rela untuk menunggu leptop loading 15 menit hanya untuk melihat notifikasi, alam has commented on this slide.”
Dan dari situlah awal permulaan kisah cinta tanpa suara.
Aku piker, rasa yang tumbuh ini akan selesai setelah proyek lomba itu berakhir. Tapi nyatanya, rasanya justru mulai tumbuh subur. Setiap hari aku selalu nyari alasan agar aku bisa komunikasi dengannya. Dengan cara aku selalu membuat puisi puisi singkat dan aku upload di snap gram. Entah mengapa dia selalu membalas snapgram itu dengan balasan puisi tapi nyambung dengan puisi yang aku upload tadi.
Aku masih menyukainya. Diam-diam. Kadang heran sama diri sendiri, kenapa sih gak bisa pindah? tapi hatiku seperti punya alasan untuk bertahan.

Hingga suatu hari, aku melihat postingan story-nya. Dia mengunggah foto tangan dengan caption,” semoga langgeng ya, kita.” Tangannya dan tangan perempuan lain.
Aku hanya bisa diam. Detak jantungku berubah seperti bunyi detik jam dinding pas nunggu waktu sahur: pelan, tapi meringis.
Aku nggak nangis. Nggak marah juga sih, karena sejak awal, aku nggak punya hak untuk protes.
Yang aku bisa lakukan hanya mundur perlahan dan menghapus chat yang belum pernah aku kirim. Mengarsipkan semua tangkapan layar percakapan kami, dan berhenti menyebut namanya dalam doa.
Setidaknya, itu niatku. Tapi nyatanya, aku tetap menyebutnya selalu. Bukan sebagai harapan, tapi sebagai sebuah pengingat: bahwa pernah ada manusia yang cukup membuatku bertahan begiu lama, bahkan tanpa kepastian.
Waktu terus berjalan.
Tahun ketiga, aku dengar kabar mereka putus. Entah kenapa, perasaan yang tadinya hampir sembuh, mendadak kembali tiba-tiba kambuh. Bukan karena berharap punya kesempatan, tapi lebih ke tentang rasa yang belum benar-benar selesai.
Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, “kenapa sih, masih suka sama dia?”
Aku sendiri pun tak tahu.
Padahal dia enggak ganteng banget, gak terlalu alim juga. Padahal dia pun pernah bikin aku ngerasa ketinggalan. Sampai dia pun tak pernah sadar bahwa aku tiap malam selalu menunggu storynya
Namanya hati, seperti punya cara sendiri untuk mencintai seseorang yang kita rasa. Meskipun hal itu seperti tidak masuk akal. Dan dunia perlu tahu bahwa saat ini memasuki tahun keempat aku menyimpan rasa ini.
Dia masih sendiri. Katanya masih belum move on dari yang dulu. Ironisnya, dia gagal move on dari sang mantan, dan aku gagal move on dari dia. Dan kami adalah rasa yang tepat, di waktu yang salah.
Terkadang aku mikir,mungkin cinta yang paling menyedihkan bukan cinta yang tertolak, tapi cinta yang tidak pernah sempat tersampaikan. Aku terlalu takutt untuk menghancurkan apa yang ada, takut kehadiran ku menjadi beban bagi dirinya dan takut kalau di menjauh. Hingga pada akhirnya aku simpan saja rasa ini dalam-dalam, dan sendiri. Seperti buku harian yang tak pernah dibaca oleh siapapun, tapi penuh dengan kalimat yang harusnya tersampaikan.
Beberapa teman pun bilang aku bodoh. “Empat tahun? Serius? Ngapain nungguin orang yang bahkan enggak pernah tahu kamu dan engga tau kalau kamu suka dia?”
Aku cuman bisa tersenyum manis, sebab memang enggak semua rasa bisa di jelaskan dengan suara, mungkin lebih baik dengan kata.
Mungkin benar, aku bodoh. Tapi rasa ini, bukan sedekar penantian. Dia adalah bagian dari sebuah perjalanan panjang yang memberikan pelajaran bahwa cinta tak selalu harus memiliki. Mungkin kadang hanya cukup dengan tahu bahwa dia bahagia meski bukan bersamaku.
Namun sampai hari ini, aku masih tetap belum bisa menyukai orang lain seperti aku menyukai alam. Entah mengapa. Padahal banyak yang lebih baik, pinter bahkan lebih masyallah perhatian, wawasan, bahkan pemikiran.
Tapi rasa ini tetap miliknya. Bukan karena dia sempurna, tapi karena bersamanya, aku pernah merasa cukup hanya dengan menyukai dalam diam. Bukan karena dia sempurna, tapi karena bersamanya, aku pernah merasa cukup hanya dengan menyukainya dalam diam.
Empat tahun bukan waktu yang singkat untuk menyimpan rasa indah ini. tapi cinta tak pernah soal waktu tapi ia soal bagaimana hati bisa setia, bahkan ketika taka da lagi janji di depan sana. Terkadang kita tak bisa sedang menunggu seseoran, kita hanya sedang mengikhlaskan dengan pelan-pelan yang panjang.
Penulis: Wan Nurlaila Putri
Editor: Rara Zarary
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

