
Tebuireng.online– Program Nasyrussanad dan Musyawarah Transformasi Pesantren yang digelar oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI), resmi ditutup pada Jumat (25/07/2025) di Masjid Pesantren Tebuireng. Kegiatan ini telah berlangsung selama 14 hari penuh dan menjadi momentum penting dalam menyambung sanad keilmuan antara ulama masa kini dan para pendahulu, khususnya sanad Shahih Bukhari dan Muslim.
Baca Juga: RMI PBNU Gelar Pembukaan Nasyrus Sanad dan Musyawarah Transformasi Pesantren
Acara penutupan dihadiri oleh 30 peserta dari berbagai pesantren serta sejumlah tokoh nasional dan ulama terkemuka, di antaranya:
- KH. Abdul Hakim Machfudz (Pengasuh Pesantren Tebuireng)
- KH. Ulil Absar Abdalla (Ketua PBNU)
- Gus Ulun Nuha
- KH. Hodri Arief
- KH. Abdul Aziz Sukarto Faqih
- KH. Kamuli Khudori
- KH. Taufiqurrahman
- KH. Muthohharun Afif
- KH. Ahmad Roziqi
- KH. Ahmad Musta’in Syafi’i
Rangkaian penutupan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ustadz Fadillah Sya’ban. Kemudian dilanjutkan dengan testimoni peserta yang disampaikan oleh KH. Muhammad Nilzam Yahya. Ia mengungkapkan kegembiraannya dapat mengikuti pengajian hingga tuntas selama dua pekan penuh.

“Awalnya saya bimbang, ragu apakah bisa bertahan 14 hari. Tapi MasyaAllah, akhirnya bisa sampai akhir. Kami para peserta hanya berharap berkah dari pengajian ini, semoga apa yang disanadkan menjadi ilmu yang terus mengalir dan tidak ternilai,” ungkapnya penuh haru.

Baca Juga: Gus Kikin Tegaskan Komitmen Tebuireng Jaga Tradisi Ngaji Shahih Bukhari-Muslim
Dalam sambutannya, KH. Hodri Arief, dari RMI PBNU menegaskan bahwa mengikuti program ini adalah salah satu cara termudah untuk mendapatkan sanad Imam Bukhari dan Imam Muslim, yang dahulu ditempuh para ulama dengan perjalanan lintas negara.
“Kalau dulu Imam Bukhari mencari sanad hingga menempuh lintas negara naik kuda atau unta, kita hari ini cukup naik mobil, kereta, atau pesawat dan duduk ngaji 14 hari. Ini nikmat besar,” ujar beliau.
Sementara itu, Ketua PBNU, KH. Ulil Abshar Abdalla menyampaikan harapan besar dari program ini agar sanad keilmuan KH. Hasyim Asy’ari bisa tersambung dan terus hidup di pesantren-pesantren seluruh Indonesia.
Baca Juga: Gus Ulil: Cita-cita Saya Sambung Sanad Tebuireng Tercapai
“PBNU tidak ingin kegiatan ini selesai begitu saja. Kami berharap akan ada kelanjutan. Sanad dari Tebuireng ini harus menyebar ke berbagai penjuru tanah air. Karena pusat ilmu dan sanad Nahdlatul Ulama memang ada di Tebuireng. Semoga dari sini pengajian hadis berkembang di kalangan pesantren dan para kiai menjadi ujung tombak penguatan dirosatul hadits Ahlussunnah wal Jama’ah,” tandasnya.
Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Shahih Muslim oleh Dr. KH. Ahmad Musta’in Syafi’i, disusul prosesi pemberian ijazah sanad oleh panitia-mujiz, serta penyerahan syahadah (sertifikat sanad) secara simbolis kepada KH. Ulil Abshar Abdalla dan KH. Hodri Arief, M.A. oleh KH. Abdul Hakim Mahfudz.
Baca Juga: Ketua RMI PBNU Ungkap Syukur Ikuti Pengajian di Pesantren Tebuireng
Menutup rangkaian acara, KH. Abdul Hakim Machfudz menyampaikan amanat agar program Nasyrus Sanad terus dikembangkan dan dilanjutkan oleh berbagai pesantren di seluruh Indonesia.
“PBNU berharap Nasyrussanad bisa disebarkan dan dilanjutkan oleh pondok-pondok lain. Hari ini ada 52 pesantren yang sudah tersambung, semoga ke depan bertambah banyak pondok yang melanjutkan tradisi ngaji Shahih Bukhari dan Muslim ini,” ujarnya.
Pewarta: Ayu Amalia
Editor: Rara Zarary
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

