
Tebuireng.online— Agenda Nasyrussanad yang digawangi oleh Robithah Ma’ahid Islamiyyah (RMI) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sukses mengkader 50 mujiz (pemberi ijazah) kitab Shahih Bukhari dan Muslim. Tebuireng yang menjadi tuan rumah acara ini telah mengijazahkan kedua kitab tersebut melalui 9 mujiz. Yaitu, KH. Abdul Hakim Machfudz (Pengasuh Pesantren Tebuireng), Drs. KH. Muthohharun Afif, Lc., M.HI., KH. Abdul Aziz Sukarto Faqih, Drs. KH. Kamuli Khudori, Dr. KH. A. Musta’in Syafi’i, KH. A. Syakir Ridwan, Lc., M.HI., Drs. KH. Fahmi Amrulloh Hadizq, Kiai Mustaqim Askan, dan Drs. KH. Taufiqurrahman.
Selain itu, para mujiz juga dibantu oleh asisten mujiz untuk membacakan kedua kitab tersebut, yaitu Dr. KH. Achmad Roziqi, Lc., M.HI, Dr. KH. Ahmad Ubaydi Hasbillah, Lc., MA. Hum, Dr. Mohamad Anang Firdaus, M.Pd.I, Kiai Mahfudz Ali Amari Sya’roni, Muhammad Alamuddin, S.Ag., dan Ahmad Wasil Syahir, S.Ag. Pada kesempatan ini salah satu ketua PBNU, KH. Ulil Abshar Abdalla dianugerahi oleh ketua RMI PBNU KH. Hodri Ariev sebagai peserta dengan keaktifan seratus persen.
Baca Juga: Gus Ulil Sebut Integrasi Ilmu Syar’iyyah dan ‘Aqliyyah Jadi Kunci Transformasi Pesantren
Kehadiran Gus Ulil yang aktif itu bukan tanpa alasan. “Secara pribadi saya juga sangat ingin untuk menyambung sanad di Tebuireng. Sebab kakek dan saudara-saudara di Kajen, Pati semuanya sambung ke Tebuireng,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini upaya PBNU untuk memfasilitasi bersambungnya sanad Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari dengan para kiai sekarang ini bisa terlaksana. Hal ini juga merupakan mimpi Gus Yahya (ketua umum PBNU) sejak lama. Begitupun Gus Ulil, ia berharap kegiatan sambung sanad ini bisa berlangsung dalam angkatan-angaktan berikutnya.

Pihak PBNU juga memohon kepada para kiai peserta Nasyrussanad tidak sekadar kegiatan ngaji kilatan yang begitu selesai tak ada keberlanjutan. “Kita ingin setelah dari sini ada kelanjutan. Pertama, sanad Tebuireng ini bisa disebarkan ke penjuru tanah air. Karena pusatnya pengetahuan di lingkungan NU itu di Tebuireng,” tambah menantu KH. Musthofa Bisri ini.
Baca Juga: Hadiri Nasyrus Sanad, Gus Yahya Ungkap Alasan Memilih Pesantren Tebuireng
Kemudian ia melanjutkan, “semoga setelah kegiatan di sini kajian dan pengajian ilmu hadis berkembang di kalangan pesantren. Karena selama ini ada kesan bahwa kajian hadis bukan takhasus/spesialisasi para kiai NU. Kita ingin pengkajian hadis juga berkembang di lingkungan NU. Karena muassis NU merupakan muhaddis sekaligus santri dari seorang muhaddis KH. Mahfudz Al-Tarmasi. Sehingga sudah selayaknya dirasah hadis menjadi kegiatan penting di lingkungan NU.”
Agenda ini memang diharapkan untuk menunjang para kiai di Indonesia agar menjadi ujung tombak kajian hadis dengan perspektif Ahlusunnah wal Jamaah Al-Nahdiyyah. Sebagaimana diwariskan oleh Kiai Hasyim, Syaikh Mahfudz Termas, Syaikh Ahmad ibn Zaini Dahlan, dan Syaikh Abu Bakr Syatha. Sebab bagi pengasuh Tebuireng, jika pesantren Tebuireng ibarat restoran dengan berbagai macam menu, maka menu utamanya adalah hadis.
Pewarta: Dimas Setyawan
Editor: Rara Zarary
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

