Kemuliaan Bulan Muharram dalam Tinjauan Al-Qur’an dan Hadis

Kemuliaan Bulan Muharram dalam Tinjauan Al-Qur’an dan Hadis


Ilustrasi bulan suci istimewa, Muharram (sumber: nomersatukaltim)

Dalam khazanah Islam Bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang sangat dimuliakan. Ia termasuk dalam deretan empat bulan haram (al-asyhur al-hurum) yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan dijelaskan oleh Nabi Muhammad Saw. sebagai waktu yang penuh kehormatan dan keutamaan. Allah berfirman dalam surat At-Taubah ayat 36:

Contents

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌۗ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram…” (QS. At-Taubah: 36)

Baca Juga: 10 Keutamaan Berpuasa di Bulan Muharram

Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud empat bulan haram itu adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.[1]Kenapa disebut haram? Hal ini karena orang arab memuliakan dan mengangungkannya, di dalamnya dilarang berperang, dan dianjurkan memperbanyak amal kebaikan.[2] Sementarai bulan Muharram diberi nama Muharram sebab pada saat itu Allah mengharamkan surga terhadap iblis.[3]

Selain termasuk ke dalam bulan haram, bulan Muharram juga memiliki keistimewaan dengan satu-satunya bulan yang dinisbatkan oleh Nabi kepada Allah. Ibnu Rajab menyatakan;

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

وقد سمى النبي صلى الله عليه وسلم المحرم شهر الله واضافته إلى الله تدل على شرفه وفضله فإن الله تعالى لا يضيف إليه إلا خواص مخلوقاته كما نسب محمدا وإبرهيم وإسحاق ويعقوب وغيرهم من الأنبياء إلى عبوديته ونسب إليه بيته وناقته

“Nabi telah menamakan bulan Muharram sebagai ‘Syahrullah’ (Bulan Allah), dan penisbatan bulan ini kepada Allah menunjukkan kemuliaan dan keutamaannya. Sebab, Allah Ta‘ala tidak menisbatkan sesuatu kepada-Nya kecuali makhluk-makhluk pilihan-Nya. Sebagaimana Allah telah menisbatkan Muhammad, Ibrahim, Ishaq, Ya‘qub, dan para nabi lainnya kepada penghambaan kepada-Nya, dan menisbatkan rumah-Nya (Ka’bah) serta unta-Nya.”[4] Maka dari itu, penisbatan nabi terhadap bulan Muharram kepada Allah merupakan isyarat akan keistimewaan bulan ini.

Di sisi lain, puasa di bulan ini merupakan puasa terbaik setelah puasa wajib. Dalam hal ini, Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

أفضل الصيام بعد شهر رمضان شهر الله الذي تدعونه المحرم

“Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu bulan Muharram.” (HR. Muslim no. 1163)

Hadis ini menunjukkan betapa bulan Muharram memiliki nilai ibadah yang tinggi, khususnya dalam amalan puasa sunnah. Ibnu Rajab mengatakan hadis ini sangat jelas bahwa puasa sunnah yang paling mulia setalah puasa di bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, Muharram.[5] Bahkan, salah satu puasa yang sangat dianjurkan adalah puasa Asyura atau puala tanggal 10 Muharram, yang pahalanya dapat menghapus dosa setahun yang lalu. Nabi Muhammad Saw bersabda;

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Puasa pada hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang dan Puasa pada hari ‘Asyura, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)

Baca Juga: Amalan di Bulan Muharram, Termasuk Puasa Asyuro

Imam Nawawi dalam kitab Majmu’ Syarhu Muhadzdzab menyatakan bahwa puasa ini dapat menghapus segala dosa kecuali dosa besar. Masing-masing dari puasa Arafah dan Asyura dapat menghapus dosa yang terjadi, dan apabila tidak melakukan dosa sama sekali maka akan ditulis sebagai amal kebaikan.[6]

Bahkan, Hari ‘Asyura ini merupakan hari yang sangat istimewa, hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan Bani Israil. Ibnu Abbas ra. berkata: “Ketika Nabi datang ke Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura. Maka beliau bertanya: ‘Hari apa ini?’ Mereka menjawab: ‘Ini adalah hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari ini.’ Nabi pun bersabda: ‘Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.’ Maka beliau pun berpuasa pada hari itu dan memerintahkan untuk berpuasa padanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjelaskan latar belakang disyariatkannya puasa Asyura dalam Islam, yakni sebagai bentuk syukur atas kemenangan Nabi Musa dan kaumnya dari kezaliman Fir’aun, dan bagaimana Nabi Muhammad ﷺ menghidupkan tradisi para nabi sebelumnya.[7]

Baca Juga:  12 Amalan Bulan Muharram

Bulan Muharram bukan sekadar penanda awal tahun Hijriyah, tetapi juga momentum untuk memperkuat takwa, memperbanyak amal saleh, serta memperbaiki diri. Harapannya, dengan mengetahui keistimewaan bulan ini, kaum muslimin akan terdorong untuk memperbanyak puasa, sedekah, dan menjauhi maksiat, serta dapat menghidupkan semangat spiritualitas yang tinggi di bulan yang mulia ini.


[1] Tafsir Al-Wasith li Thanthawi, 6/278

[2] I’anah Ath-Thalibin, Sayyid Abi Bakar Syatha, 2/307

[3] Ibid.

[4] Lathaiful Ma’arif, Ibnu Rajab, 36

[5] Lathaiful Ma’arif, Ibnu Rajab, 34

[6] Majmu’ Syarhu Muhadzdzab, An-Nawawi, 6/382

[7] Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalani, 4/290



Penulis: Moh Wildan Husin
Editor: Rara  Zarary



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *