Di Bawah Naungan Diktator Bangsa

Di Bawah Naungan Diktator Bangsa


Sebuah ilustrasi cerpen (su,ber: harianmerapi)

Di ruangan berukuran 6×3 meter tempat Kezia menonton berita bersama teman-teman seasramanya, mereka tampak sangat antusias menyaksikan siaran terkini dari media massa. Malam Jumat itu, mereka berkesempatan menonton televisi karena memang sudah dijadwalkan di pesantren mereka dua minggu sekali.

Saluran yang mereka tonton adalah METROJAGA, satu-satunya saluran yang mereka sukai. Gaya pembawaan reporternya yang seru dan kritis, serta kata-katanya yang tajam seolah tak acuh pada diktator kelas kakap bangsa ini, membuat Kezia dan teman-temannya menjadi penonton setia.

“Ya, pemirsa, kembali lagi bersama saya, Kasino Hendrawan,” salam sang pembawa berita.

Dalam berita tersebut, disampaikan bahwa marak terjadi pembunuhan terhadap siswa dan mahasiswa berprestasi serta aktif dalam organisasi. Pemerintah bahkan mengimbau agar pihak sekolah dan lembaga pendidikan tidak mengumumkan peringkat atau penghargaan apapun kepada peserta didik.

“Pokoknya jangan sampai ada yang mati karena MEREKA!” tegas MENKOPOLHUKAM.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Yang dimaksud dengan “mereka” adalah oknum dari kelompok Azkar dan antek-anteknya. Azkar, sejak lama, menyimpan dendam terhadap negeri ini. Ia dan kelompoknya alergi terhadap kemajuan. Mereka tak ingin Indonesia dipenuhi orang-orang cerdas dan ber-SDM tinggi. Baginya, masyarakat harus dibuat bodoh agar mudah dikendalikan. Kini, Azkar dan anak buahnya masih menjadi buronan tentara dan polisi.

“Wah, kacau juga ya situasi di luar sana,” ucap Alessa.

“Iya, serem banget, cuy… hiiii takut,” cicit Zerrin.

“Untung saja kita di pesantren. Aman, deh,” timpal Alessa.

Teman-teman Kezia ramai membicarakan berita yang baru saja mereka saksikan. Perkataan Alessa ada benarnya. Kezia merasa beruntung masih bisa hidup dan belajar dengan tenang di Pesantren Al-Khodijah. Asrama mereka tertutup dan aman.

Mirisnya, Kezia sudah duduk di kelas 12. Dalam waktu dua bulan lagi, ia dan teman-temannya akan melaksanakan wisuda secara tertutup. Kabarnya, pihak yayasan tidak mengedarkan undangan kepada wali murid, mengingat maraknya pembantaian terhadap orang-orang berpendidikan di luar sana. Sampai-sampai, tak ada lagi pujian seperti “pintar” atau “berprestasi” yang berani diucapkan.

Bulan ini, Kezia akan mengikuti ujian kelulusan SMA. Tanpa terasa, peristiwa BUTA (Bunuh Orang Pintar) yang terjadi bulan lalu semakin meluas. Oknum Azkar kian hari makin gencar mencari mangsa. Gerakan BUTA menjadi ancaman besar bagi bangsa ini. Nyawa generasi emas kian langka.

Meski banyak kasus yang mencuat, Kezia dan kawan-kawan tidak patah semangat. Mereka tetap teguh dan giat belajar. Banyak di antara teman-teman Kezia berasal dari daerah jauh, dengan tekad kuat untuk menimba ilmu. Kezia sendiri berasal dari Sabang, ujung barat Indonesia. Butuh waktu 48 jam untuk sampai ke Bondowoso, Jawa Timur, tempat pesantren Al-Khodijah berada.

Kezia adalah satu-satunya perempuan di desanya yang berani merantau ke Pulau Jawa. Warga desa sempat tak percaya ia benar-benar menimba ilmu di sana, mengingat tubuh Kezia yang mungil seperti anak SD.

“Dak nyangko, yek… Kezia yang cak lidi itu pacak belajar di Jawe,” komentar warga desa.

****

H-1 Ujian Kelulusan. Kezia menelepon ibunya.

“Halo, Umak,” sapa Kezia.

“Ade ape, anakku? Ngasehat kah?” jawab sang ibu.

“Sehat, Umak! Kezia mintek didoain, mangken ujian lancar.”

“Dak mintek pulek, ladem didoake Umak, nak…”

Benar saja, ujian yang dijalani selama dua minggu itu berlangsung mulus—lancar seperti jalan tol, tanpa hambatan. Beberapa minggu berlalu. Wisuda sudah sangat dekat. Hanya tinggal menghitung hari, satu langkah menuju jenjang baru. Kezia dan teman-temannya sangat menantikan hari itu.

Malam sebelum wisuda, santri purna kelas 12 dikumpulkan di aula untuk briefing. Kezia berangkat bersama Zerrin dan Alessa.

“Briefing malam ini akan diisi oleh Ustadzah Ludzna Billah Libnatina. Untuk beliau, kami persilakan,” ucap MC.

Ustadzah Ludzna mulai menjelaskan rangkaian acara dan hal-hal teknis yang perlu diperhatikan. Di akhir penjelasan, ustadzah memberi kesempatan untuk bertanya.

“Ustadzah, besok wisuda diumumin lulusan terbaiknya, gak?” tanya Zerrin.

“Diumumkan, insyaAllah,” jawab ustadzah.

“Yeay! Kira-kira siapa ya wisudawan terbaiknya?” Kezia penasaran.

“Pasti aku lah!” seru Alessa dengan nada sombong.

Hari wisuda pun tiba. Kezia dan teman-temannya bersiap, lalu menuju gedung yayasan tempat acara dimulai. Alessa mengajak Zerrin dan Kezia duduk di kursi terdepan, dekat podium.

“Pora-pora bersuka ria

Merpati terbang di angkasa raya

Semua bermula dari rasa, duka cita,” MC membuka acara dengan puisi singkat yang menyentuh hati para santri purna.

Acara berjalan lancar. Alessa dan kawan-kawan sudah tak sabar menantikan pengumuman wisudawan terbaik. Mereka berharap nama mereka yang disebut.

Saat pengumuman itu tiba, Alessa menengadahkan tangan, berdoa.

“Wisudawati purna terbaik dengan nilai mumtaz diberikan kepada ananda Kezia Roiatul Jiddan,”

ucap MC dari podium.

Kezia tercengang. Namanya disebut! Ia pun menaiki podium dengan langkah ragu, wajahnya terkejut, tubuhnya kikuk. Usai menerima penghargaan, Kezia mendapati Alessa sedang menangis. Ia mencoba menenangkan Alessa, tapi Alessa menepisnya dan pergi meninggalkan Kezia serta Zerrin.

“Selamat sore, Om Azkar. Ada mangsa BUTA di sini,” ucap Alessa lewat telepon.

Tak bisa dipungkiri, Azkar, ketua gerakan BUTA, adalah paman dari Alessa, adik dari ayahnya, yang kini menjabat sebagai presiden RI periode terbaru. Alessa sudah mengetahui hubungan ini jauh sebelum organisasi Azkar terbentuk.

Malam itu, Zerrin hendak muroja’ah Al-Qur’an bersama Kezia. Namun Kezia tak juga muncul. Zerrin pun mencarinya ke asrama. Ia sudah berkeliling hampir setengah jam, namun Kezia tak ditemukan. Panik, Zerrin melaporkannya kepada Ustadzah Husna selaku keamanan pondok.

Karena malam sudah sangat larut, pihak pesantren memutuskan pencarian Kezia dilanjutkan keesokan harinya.

“Pemimpin di esok hari, adakah yang cukup mampu?

Mewakili suara kami?

Jelas tak ada yang mau!

Ada yang cukup peduli umat yang dikelabui.

Melupakan masa lalu? Namun kami belum tentu…”

Lagu dari band Feast terdengar pelan dari earphone yang dipakai Ustadzah Ludzna. Ia tengah berjalan menuju pasar untuk membeli bahan pangan santri. Jalanan masih gelap, hanya diterangi lampu tiang listrik yang berjauhan dan sepi dari bangunan. Tak ada kendaraan, jadi Ustadzah harus berjalan kaki.

“AAAKKHHH!!! ASTAGHFIRULLAH!!!” Pekik Ustadzah.

Di tikungan menuju pasar, di pinggir jalan raya, Ustadzah menemukan mayat seorang perempuan. Tubuhnya telanjang dan diikat membentuk salib di tiang listrik. Wajahnya penuh sayatan, tubuhnya lebam karena hantaman benda tumpul. Di dahinya tergores darah yang membentuk nama: “KEZIA.”



Penulis: Lutfia Nala Aisahubbillah

Editor: Rara Zarary

 

 



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *