Penikmat Hidangan
Hanya bualan yang terhidang
bibirnya basah terguyur fitnah
tentang perasaan yang selalu terkubur
dalam geratan hati ingin menjerit
ketidakpuasan menjuruskan lidah
menusuk perkataan yang segan terucap
cermin membalik bayangan kenyataan
hingga terjungkir tak beraturan
bukankah ini alur takdir
yang terus berjalan?
manusia bukan sutradara
waktu mereka hanya penikmat hidangan
yang tersaji
Tetap Sulut
Sebelum petuah memanggil
pembukuan opini telah usai
pemalsu tak lagi mudah singgah
membawanya untuk selalu teguh
karangan cacian bukan pula asing
baru serangkai aku tak jatuh
ajal saja selalu pasti
tak apalah jadi pijakan
harus berjalan memang
seteguk air diribuan kilo
tetap sulut buang kepadaman
Binatang Tertawa
Itu kambing diternak peternak
digiring-giring lalu dibentak
itu kerbau yang selalu menunduk
karena makan dijanjikan
sebab mereka binatang bukan?
itu murid yang dididik
tapi diajar
dibunuh otaknya
diracun pikirannya
dibungkam mulutnya
lalu diperintah bilang “ya”
binatang tertawa
itu manusia ha..ha…ha..
kita merdeka tanpa susah
hasrat diri yang selalu berdugem
menerbangkan kebajikan menjadi tabu
suara-suara melayang memukul
hati berbatu menjadi luntur
pendidikan bukan doktrin ultimatum
jika kuncup bunga ditebang
Kapan mekar bunga di taman?
eksplorasi diri bisa jadi
tendensi landasan pasti
Buru Keangkuhan
Satu langkah pun jadi perubahan
meski hinaan melabuh
Keangkuhan harus ditangkap
tusuk, tikam dan bunuh
jeritan-jeritan palsu abaikanlah
karena kau tau itu sebuah penjara
yang memenjarakan kebenaran
jika kesukaran memburumu
katakanlah dirimu akan sanggup
menahan peluru-peluru nya
tebalkan keyakinan
Tuhan selalu bersama
Penulis : Amalia Dwi Rahmah

Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru
