Gua Belanda - Menelusuri Cerita Kelam Zaman Penjajahan

Gua Belanda – Menelusuri Cerita Kelam Zaman Penjajahan

Di kawasan utara Kota Bandung terdapat sebuah Gua Belanda yang usianya sudah beratus ratus tahun. Gua tersebut terletak di Dago Pakar, lebih tepatnya di Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Gua ini dibangun pada tahun 1912 oleh pemerintah kolonial Belanda dengan tujuan untuk penyadapan aliran Sungai Cikapundung. Pada zaman kemerdekaan, pemerintah kolonial memanfaatkan gua ini sebagai fasilitas militer. Mereka menjadikan tempat ini untuk menyusun strategi, menyimpan artileri dan senjata, serta sebagai stasiun radio komunikasi. Lokasinya yang tersembunyi, menjadikan gua ini strategis bagi tentara Belanda untuk melakukan penyadapan.

Jika ingin masuk ke gua ini pengunjung hanya perlu membeli tiket seharga Rp. 15000 di Gerbang Taman Hutan Raya di Dago, membayar retribusi Rp. 2000 dan tambahan Rp. 5000 untuk parkir jika membawa kendaraan sendiri. Gua Belanda terletak 2 km dari gerbang Taman Hutan Raya. Untuk menjakaunya pengunjung bisa jalan kaki, naik sepeda, atau bahkan naik kuda. Setelah berjalan 2 km jauhnya, saatnya untuk masuk kedalam gua yang gelap. Senter dari Smartphone saja sudah cukup untuk menerangi jalan saat pengunjung memasuki gua. Tetapi pengunjung juga bisa menyewa senter tepat di sebelah pintu masuk dengan biaya Rp. 10000.

Menyusuri Ke Setiap Celah Gua Belanda

Terdapat dua pintu masuk ke Gua Belanda yang saling terhubung dengan 15 lorong yang berada di dalamnya. Saat memasuki gua tersebut, pengunjung akan melihat sel tahanan perang pada sisi kiri. Sedangkan di sisi kanan terdapat gang sempit yang berujung pada sebuah tangga yang dulu digunakan sebagai tempat mengintai. Terdapat juga sebuah lorong yang ada bekas rel yang dulu digunakanan untuk mengangkut perbekalan dan persenjataan. Konon, gua ini memiliki suasana mistis yang kental. Bahkan gua ini sering digunakana untuk pengambilan gambar (shooting) acara-acara misteri.

Konon pada zaman dulu banyak tawanan yang merupakan rakyat Indonesia tewas dalam Gua Belanda akibat penyiksaan, kelaparan, atau meregang karena kerja paksa. Selain itu adapula mitos yakni pantang mengucpa kata “lada” yang artinya pedas menurut bahasa sunda. Kata tersebut berkaitan dengan nama seorang tokoh masyarakat yang sangat dihormati, yaitu Eyang Lada Wisesa. Jika seseorang mengucapkan kata tersebut, konon akan mengalami hal-hal mistis.

Icip Juga Wisata Kuliner : Ikan Sambal Na Tinombur, Kuliner Lezat Khas Tanah Batak

Latar belakang pemandangan yang indah berpadu dengan susasan mistis Dago Pakar menawarkan spot-spot foto yang menarik bagi pengunjung. Jadi jika berkunjung kesini jangan lupa untuk mengambil foto sebanyak-banyaknya. Selain Gua Belanda, di kawasan Taman Hutan Raya juga terdapat objek-objek wisata lainnya. Sebelum mencapai gua ini, pengunjung bisa mampir ke Museum Juanda dan akan melewati Gua Jepang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Releated

Gua Gajah Keunikan Tempat Ibadah Yang Mengagumkan

Gua Gajah Keunikan Tempat Ibadah Yang Mengagumkan

Gua Gajah adalah gua yang digunakan sebagai tempat ibadah pada zaman dahulu. Terletak di Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali dan berjarak kurang lebih 27 km dari Denpasar. Keunikan Goa Gajah Dengan bentuk arsitektur yang unik itu, tak heran apabila Pura Gua Gajah Bali malahan menjadi destinasi yang sukses menarik perhatian banyak pelancong. Para […]

Wisata Guci Tegal - Pemandian Air Panas Berkhasiat

Wisata Guci Tegal – Pemandian Air Panas Berkhasiat

Wisata Guci Tegal mempunyai pesona keindahan alam yang asri khas daerah pegunungan Tropis. Hal itu mulai dapat terasa sejak masih dalam perjalanan. Panorama khas pegunungan dengan hamparan sawah, kebun strawberry, tomat, wortel, cabai, serta hutan pinus. Apalagi suhu sejuk, benar benar khas obyek liburan dataran tinggi sangat menenangkan. Di lokasi liburan guci Tegal, selain berendam […]